Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Gadis Kota


Dalam perkelanaan cintaku ini aku terbawa sampai ke Ibu Kota Jakarta,sungguh lucu mengingat aku ini bermula ditawari nonton bareng suatu pertandingan di Jakarta,secara kebetulan aku bertemu gadis ini disebuah loket voucher,keadaan disana sangatlah penuh sesak,aku berangkat untuk membeli voucher yang nantinya ditukar dengan tiket sebelm menonton pertandingan itu bersama adik kesayanganku,setelah aku mendapatkan vouchernya aku harus cepat keluar dari kerumunan orang ini,namun sayang pegangan tangan adikku lepas,aku mencoba mencari dan meraih tangannya untuk kutarik keluar barisan,kumelihat sebuah tangan yang langsung kukira tangan adikku,tak pikir panjang aku tarik tangan itu,ternyata salah orang,dia adalah seorang gadis dari kota jakarta ini,wajahku memerah karena malu,apalagi ketika adikku malah menepuk bahuku dan memanggilku dari belakang ,aku diam sejenak menahan malu,dan langsung minta maaf kepadanya,”ah gak papa malah gw terimakasih bgt sama kamu yg udah nolongin aku dari kerumunan ini” jawab gadis itu dengan logat bahasa gaul yang telah faseh ketika aku minta maaf,ternyata dia juga telah membeli voucher namun tak bisa keluar,ahir cerita ku pamit untuk pulang kepadanya,setelah kuberpaling ada sesuatu yang janggal di hatiku,kuingin berbalik lagi dan berbicara kepadanya lebih lama,namun dia telah hilang di telan kerumunan orang,sungguh sayang aku belum tau namanya.

Sedikit menyesal memang,kehilang seorang bibit cinta yang mulai tumbuh dalam hatiku,hari demi hari kucoba datang ke gelora bung karno,alih alih membeli souvenir untuk pertandingan sehingga ku bisa turut mencari gadis itu kembali,tapi hasilnya nihil,gadis itu tak nampak,ahirnya pasrah,aku berpikir “mungkin bukan jodohku” .

Hari yang ditunggu tunggu pun tiba selepas 1 minggu menunggu jadwal pertandingan,ahirnya pertandingan itu dimulai pada malam hari pkl 19.30 malam,aku berangkat dengan adikku menggunakan mobil ke gelora bung karno pkl setengah lima,karena ku takut tak kebagian tempat parkir,sebelumnya kemarin kutelah menukar voucher itu dengan tiket masuk,sesampainya disana ,aku menunggu cukup lama didalam mobil,laptopku ketinggalan di kampung alhasil kusangat bosan disana,hanya bisa melihat adiku yang berkali kali tersenyum sendiri membaca sms dari pacarnya “fiuuh lama amat” gumam ku dalam hati.

Waktu yang ditunggu pun tiba,aku masuk kedalam bung karno menuju tempat duduku di kawasan VIP barat,setelah duduk,seorang perempuan dengan pakaian lengkap timnas dan stiker bergambar indonesia di pipinya memanggilku dari samping,aku menoleh,sungguh kebetulan sekali,aku bertemu gadis yang kutarik dalam loket voucher minggu kemarin,aku sungguh kaget, “ memang jodoh ga kemana”gumamku tak jelas”,”apa?lu bilang apa?” tanya gadis itu,”eh gak,gak bilang apa apa”sahutku dengan kaget, “ oiya nama kamu siapa?”, aku balik bertanya, “gw andin,lu?” aku memeberikan namaku,dan kami pun mulai pembicaraan panjang tetgang asal muasal kami,dll sebelum pertandingan dimulai

Dalam pertandingan aku tak konsentrasi,aku seringkali memandangi mata dan wajahnya penuh rasa kekaguman,memang,wajahnya cantik,pipinya tembam,rambutnya lurus,mengenakan topi merah berlambang garuda dan pony tailnya keluar dari lubang dibelakang topinya itu,aku perhatikan dia sangat bersemangat mendukung jagoannya di pertandingan ini,dia berteriak teriak tidak jelas ketika musuh mulai mendekati kotak finalty jagoannya,lucu memang melihat gadis cantik berteriak teriak :D
Ahir pertandingan tim kami menang,namun tak bisa mendapat piala karena kalah dalam agregat gol di final ke 1,wajahnya yang tadi semangat menjadi sedkit murung,wajahnya ditekuk,pipinya ia gembungkan tanda tak puas,”kamu kenapa?kok sedih gitu?” tanyaku “hee gak papa Cuma abis uangku Cuma tuk nonton tim kita kalah” ya ya ya aku juga seperti itu,tabunganku kuambil 3 juta untuk kejakarta ini,dan tak tersisa sedikitpun sampai ke kampung.

Sepulang dari pertandingan jalanan ramai sekali sangat macet,mobilu pun tak bisa keluar dari parkiran,aku melihat gadis itu ketika berpisah dengan kami,ternyata ia jalan kaki,aku panggil dia,dia menoleh lalu aku ajak dia untuk pulang bersamaku,rumahnya memang lumayan jauh dari gelora bung karno,namun ia nekat sekali jalan kaki bersama teman temannya,dan sudah malam pula,dengan sedikit memaksa ahirnya dia mau,lalu berpamitan dengan teman temannya lalu lari kembali ke arah mobilku ,kebetulan lagi rumahnya searah dengan tujuan kami.

Karena keadaan tak memungkinkan aku ajak ia makan,tentunya barengan dengan adikku disebuah restauran biasa di dekat gelora bung karno,sembari menunggu jalanan kembali normal jadi kami bisa pulang dengan lancar,kami pun kembali berbincang bincang,adikku pun tak dibikin repot oleh kami yang sedang pdkt karena dia pun sibuk dengan smsnya.

Akhir cerita ku ajak ia joging dan lari pagi esok,”boleh boleh aja”sahut ia,setelah makan kami pun pulang jalanan masih belum juga normal namun tak separah tadi,kunekt mengantar ia pulang,dia menunjukan rumahnya ketika kumulai memasuki sebuah perumahan,jari telunjuknya yang manis menunjukan rumah berwarna kuning dengan pagar berwarna coklat tembaga dan ada kebun kecil di halaman depannya itu,aku meminggirkan mobilku kedepan rumah itu,sebelum ia keluar,aku meminta nomor handphonenya,dia memebrikan nomornya dnegan senang hati kepadaku,”makasih ya,kamu udah mau nraktir ama nganterin gw..” , “ ya gapapa biasa aja,jangan lupa besok ya”, “ oke deh” sahut ia dengan mengedpinkan mata kanannya.

Esok hari,aku sangat kaget melihat jam dinding di depanku menunjukan angka 7,aku sangat kaget karena kujanji joging dengan ia jam 6,kuraih hapeku,terlihat 3 panggilan tak terjawab dengan nomor andin, aku pun lemas,dengan menyesal ku sms dia,dia hanya menjawab dengan biasa dan tak ada rasa marah,aku pun lega,walaupun aku bisa saja kembali kerumahnya dan mengajaknya makan taupun yang lain tapi hari ini aku harus pulang dan packing,karena sebentar lagi juga adiiku akan berangkat sekolah di hari senin besok,

Ahir cerita kupungan dengan adikku ke kampung di jawa tengah,bias wajahnya masih saja membayangiku,wajah dan senyumannya yang selalu kuingaty membuatku bahagia dan selalu ingin mengingatknya,dalam perjalanan ia mengirimkan sms “ hati hati di jalan ya” hmmmm sungguh kenangan terindah,mungkin inilah perempuan yang dapat menggantikan Dhea di hatiku,walau begitu bayang dhea tak kunjung hilang di benakku... “Aku pasti kembali,tunggu aku” gumamku dalam hati dengan yakin.


penulis : Ardi
E-mail : arr_die@exterminator.net
http://gen22.blogspot.com/2011/01/cerpen-cinta-2011.html

Wanita itu berjalan agak ragu memasuki hotel berbintang lima . Sang petugas satpam yang berdiri di samping pintu hotel menangkap kecurigaan pada wanita itu. Tapi dia hanya memandang saja dengan awas ke arah langkah wanita itu yang kemudian mengambil tempat duduk di lounge yang agak di pojok.
Petugas satpam itu memperhatikan sekian lama, ada sesuatu yang harus dicurigainya terhadap wanita itu. Karena dua kali waiter mendatanginya tapi, wanita itu hanya menggelengkan kepala. Mejanya masih kosong. Tak ada yang dipesan. Lantas untuk apa wanita itu duduk seorang diri. Adakah seseorang yang sedang ditunggunya.
Petugas satpam itu mulai berpikir bahwa wanita itu bukanlah tipe wanita nakal yang biasa mencari mangsa di hotel ini. Usianya nampak belum terlalu dewasa. Tapi tak bisa dibilang anak-anak. Sekitar usia remaja yang tengah beranjak dewasa.
Setelah sekian lama, akhirnya memaksa petugas satpam itu untuk mendekati meja wanita itu dan bertanya:
" Maaf, nona … Apakah anda sedang menunggu seseorang? "
" Tidak! " Jawab wanita itu sambil mengalihkan wajahnya ke tempat lain.
" Lantas untuk apa anda duduk di sini?"
" Apakah tidak boleh? " Wanita itu mulai memandang ke arah sang petugas satpam..
" Maaf, Nona. Ini tempat berkelas dan hanya diperuntukan bagi orang yang ingin menikmati layanan kami."
" Maksud, bapak? "
" Anda harus memesan sesuatu untuk bisa duduk disini "
" Nanti saya akan pesan setelah saya ada uang. Tapi sekarang, izinkanlah saya duduk di sini untuk sesuatu yang akan saya jual " Kata wanita itu dengan suara lambat.
" Jual? Apakah anda menjual sesuatu di sini? "
Petugas satpam itu memperhatikan wanita itu. Tak nampak ada barang yang akan dijual. Mungkin wanita ini adalah pramuniaga yang hanya membawa brosur.
" Ok, lah. Apapun yang akan anda jual, ini bukanlah tempat untuk berjualan. Mohon mengerti. "
" Saya ingin menjual diri saya, " Kata wanita itu dengan tegas sambil menatap dalam-dalam kearah petugas satpam itu.
Petugas satpam itu terkesima sambil melihat ke kiri dan ke kanan.
" Mari ikut saya, " Kata petugas satpam itu memberikan isyarat dengan tangannya.
Wanita itu menangkap sesuatu tindakan kooperativ karena ada secuil senyum di wajah petugas satpam itu. Tanpa ragu wanita itu melangkah mengikuti petugas satpam itu.
Di koridor hotel itu terdapat kursi yang hanya untuk satu orang. Di sebelahnya ada telepon antar ruangan yang tersedia khusus bagi pengunjung yang ingin menghubungi penghuni kamar di hotel ini. Di tempat inilah deal berlangsung.
" Apakah anda serius? "
" Saya serius " Jawab wanita itu tegas.
" Berapa tarif yang anda minta? "
" Setinggi-tingginya. .' '
" Mengapa?" Petugas satpam itu terkejut sambil menatap wanita itu.
" Saya masih perawan "
" Perawan? " Sekarang petugas satpam itu benar-benar terperanjat. Tapi wajahnya berseri. Peluang emas untuk mendapatkan rezeki berlebih hari ini..
Pikirnya
" Bagaimana saya tahu anda masih perawan?"
" Gampang sekali. Semua pria dewasa tahu membedakan mana perawan dan mana bukan.. Ya kan …"
" Kalau tidak terbukti? "
" Tidak usah bayar …"
" Baiklah …" Petugas satpam itu menghela napas. Kemudian melirik ke kiri dan ke kanan.
" Saya akan membantu mendapatkan pria kaya yang ingin membeli keperawanan anda. "
" Cobalah. "
" Berapa tarif yang diminta? "
" Setinggi-tingginya. "
" Berapa? "
" Setinggi-tingginya. Saya tidak tahu berapa? "
" Baiklah. Saya akan tawarkan kepada tamu hotel ini. Tunggu sebentar ya. "
Petugas satpam itu berlalu dari hadapan wanita itu.
Tak berapa lama kemudian, petugas satpam itu datang lagi dengan wajah cerah.
" Saya sudah dapatkan seorang penawar. Dia minta Rp. 5 juta. Bagaimana? "
" Tidak adakah yang lebih tinggi? "
" Ini termasuk yang tertinggi, " Petugas satpam itu mencoba meyakinkan.
" Saya ingin yang lebih tinggi…"
" Baiklah. Tunggu disini …" Petugas satpam itu berlalu.
Tak berapa lama petugas satpam itu datang lagi dengan wajah lebih berseri.
" Saya dapatkan harga yang lebih tinggi. Rp. 6 juta rupiah. Bagaimana? "
" Tidak adakah yang lebih tinggi? "
" Nona, ini harga sangat pantas untuk anda. Cobalah bayangkan, bila anda diperkosa oleh pria, anda tidak akan mendapatkan apa apa. Atau andai perawan anda diambil oleh pacar anda, andapun tidak akan mendapatkan apa apa, kecuali janji. Dengan uang Rp. 6 juta anda akan menikmati layanan hotel berbintang untuk semalam dan keesokan paginya anda bisa melupakan semuanya dengan membawa uang banyak. Dan lagi, anda juga telah berbuat baik terhadap
saya. Karena saya akan mendapatkan komisi dari transaksi ini dari tamu hotel. Adilkan. Kita sama-sama butuh … "
" Saya ingin tawaran tertinggi … " Jawab wanita itu, tanpa peduli dengan celoteh petugas satpam itu.
Petugas satpam itu terdiam. Namun tidak kehilangan semangat.
" Baiklah, saya akan carikan tamu lainnya. Tapi sebaiknya anda ikut saya. Tolong kancing baju anda disingkapkan sedikit.
Agar ada sesuatu yang memancing mata orang untuk membeli. " Kata petugas satpam itu dengan agak kesal.
Wanita itu tak peduli dengan saran petugas satpam itu tapi tetap mengikuti langkah petugas satpam itu memasuki lift.
Pintu kamar hotel itu terbuka. Dari dalam nampak pria bermata sipit agak berumur tersenyum menatap mereka berdua.
" Ini yang saya maksud, tuan. Apakah tuan berminat? " Kata petugas satpam itu dengan sopan.
Pria bermata sipit itu menatap dengan seksama ke sekujur tubuh wanita itu …
" Berapa? " Tanya pria itu kepada Wanita itu.
" Setinggi-tingginya " Jawab wanita itu dengan tegas.
" Berapa harga tertinggi yang sudah ditawar orang? " Kata pria itu kepada sang petugas satpam.
" Rp.. 6 juta, tuan "
" Kalau begitu saya berani dengan harga Rp. 7 juta untuk semalam. "
Wanita itu terdiam.
Petugas satpam itu memandang ke arah wanita itu dan berharap ada jawaban bagus dari wanita itu.
" Bagaimana? " tanya pria itu.
"Saya ingin lebih tinggi lagi …" Kata wanita itu.
Petugas satpam itu tersenyum kecut.
" Bawa pergi wanita ini. " Kata pria itu kepada petugas satpam sambil menutup pintu kamar dengan keras.
" Nona, anda telah membuat saya kesal. Apakah anda benar benar ingin menjual? "
" Tentu! "
" Kalau begitu mengapa anda menolak harga tertinggi itu … "
" Saya minta yang lebih tinggi lagi …"
Petugas satpam itu menghela napas panjang. Seakan menahan emosi. Dia pun tak ingin kesempatan ini hilang.
Dicobanya untuk tetap membuat wanita itu merasa nyaman bersamanya.
" Kalau begitu, kamu tunggu di tempat tadi saja, ya. Saya akan mencoba mencari penawar yang lainnya. "
Di lobi hotel, petugas satpam itu berusaha memandang satu per satu pria yang ada. Berusaha mencari langganan yang biasa memesan wanita melaluinya. Sudah sekian lama, tak ada yang nampak dikenalnya. Namun, tak begitu jauh dari hadapannya ada seorang pria yang sedang berbicara lewat telepon genggamnya.
" Bukankah kemarin saya sudah kasih kamu uang 25 juta Rupiah.
Apakah itu tidak cukup? " Terdengar suara pria itu berbicara.
Wajah pria itu nampak masam seketika
" Datanglah kemari. Saya tunggu. Saya kangen kamu.
Kan sudah seminggu lebih kita engga ketemu, ya sayang?! "
Kini petugas satpam itu tahu, bahwa pria itu sedang berbicara dengan wanita.
Kemudian, dilihatnya, pria itu menutup teleponnya. Ada kekesalan di wajah pria itu.
Dengan tenang, petugas satpam itu berkata kepada Pria itu: " Pak, apakah anda butuh wanita … Huh "
Pria itu menatap sekilas kearah petugas satpam dan kemudian memalingkan wajahnya.
" Ada wanita yang duduk disana, " Petugas satpam itu menujuk kearah wanita tadi.
Petugas satpam itu tak kehilangan akal untuk memanfaatkan peluang ini.
"Dia masih perawan.."
Pria itu mendekati petugas satpam itu.
Wajah mereka hanya berjarak setengah meter. " Benarkah itu? "
" Benar, pak. "
" Kalau begitu kenalkan saya dengan wanita itu … "
" Dengan senang hati. Tapi, pak …Wanita itu minta harga setinggi tingginya."
" Saya tidak peduli … " Pria itu menjawab dengan tegas.
Pria itu menyalami hangat wanita itu.
" Bapak ini siap membayar berapapun yang kamu minta. Nah, sekarang seriuslah …." Kata petugas satpam itu dengan nada kesal.
" Mari kita bicara di kamar saja." Kata pria itu sambil menyisipkan uang kepada petugas satpam itu.
Wanita itu mengikuti pria itu menuju kamarnya.
Di dalam kamar …
" Beritahu berapa harga yang kamu minta? "
" Seharga untuk kesembuhan ibu saya dari penyakit "
" Maksud kamu? "
" Saya ingin menjual satu satunya harta dan kehormatan saya untuk kesembuhan ibu saya. Itulah cara saya berterima kasih …. "
" Hanya itu …"
" Ya …! "
Pria itu memperhatikan wajah wanita itu. Nampak terlalu muda untuk menjual kehormatannya. Wanita ini tidak menjual cintanya. Tidak pula menjual penderitaannya. Tidak! Dia hanya ingin tampil sebagai petarung gagah berani di tengah kehidupan sosial yang tak lagi gratis. Pria ini sadar, bahwa di hadapannya ada sesuatu kehormatan yang tak ternilai. Melebihi dari kehormatan sebuah perawan bagi wanita. Yaitu keteguhan untuk sebuah pengorbanan tanpa ada rasa sesal. Wanta ini tidak melawan gelombang laut melainkan ikut kemana gelombang membawa dia pergi. Ada kepasrahan diatas keyakinan tak tertandingi. Bahwa kehormatan akan selalu bernilai dan dibeli oleh orang terhormat pula dengan cara-cara terhormat.
" Siapa nama kamu? "
" Itu tidak penting. Sebutkanlah harga yang bisa bapak bayar … " Kata wanita itu
" Saya tak bisa menyebutkan harganya. Karena kamu bukanlah sesuatu yang pantas ditawar. "
"Kalau begitu, tidak ada kesepakatan! "
" Ada ! " Kata pria itu seketika.
" Sebutkan! "
" Saya membayar keberanianmu. Itulah yang dapat saya beli dari kamu. Terimalah uang ini. Jumlahnya lebih dari cukup untuk membawa ibumu ke rumah sakit.
Dan sekarang pulanglah … " Kata pria itu sambil menyerahkan uang dari dalam tas kerjanya.
" Saya tidak mengerti …"
" Selama ini saya selalu memanjakan istri simpanan saya. Dia menikmati semua pemberian saya tapi dia tak pernah berterima kasih. Selalu memeras. Sekali saya memberi maka selamanya dia selalu meminta. Tapi hari ini, saya bisa membeli rasa terima kasih dari seorang wanita yang gagah berani untuk berkorban bagi orang tuanya. Ini suatu kehormatan yang tak ada nilainya bila saya bisa membayar …"
" Dan, apakah bapak ikhlas…? "
" Apakah uang itu kurang? "
" Lebih dari cukup, pak … "
" Sebelum kamu pergi, boleh saya bertanya satu hal? "
" Silahkan …"
" Mengapa kamu begitu beraninya … "
" Siapa bilang saya berani. Saya takut pak …
Tapi lebih dari seminggu saya berupaya mendapatkan cara untuk membawa ibu saya ke rumah sakit dan semuanya gagal.
Ketika saya mengambil keputusan untuk menjual kehormatan saya maka itu bukanlah karena dorongan nafsu.
Bukan pula pertimbangan akal saya yang `bodoh` … Saya hanya bersikap dan berbuat untuk sebuah keyakinan … "
" Keyakinan apa? "
" Jika kita ikhlas berkorban untuk ibu atau siapa saja, maka Tuhan lah yang akan menjaga kehormatan kita … " Wanita itu kemudian melangkah keluar kamar.
Sebelum sampai di pintu wanita itu berkata:
" Lantas apa yang bapak dapat dari membeli ini … "
" Kesadaran… "
.. . .
Di sebuah rumah di pemukiman kumuh. Seorang ibu yang sedang terbaring sakit dikejutkan oleh dekapan hangat anaknya.
" Kamu sudah pulang, nak "
" Ya, bu … "
" Kemana saja kamu, nak … Huh"
" Menjual sesuatu, bu … "
" Apa yang kamu jual?" Ibu itu menampakkan wajah keheranan. Tapi wanita muda itu hanya tersenyum …
Hidup sebagai yatim lagi miskin terlalu sia-sia untuk diratapi di tengah kehidupan yang serba pongah ini. Di tengah situasi yang tak ada lagi yang
gratis. Semua orang berdagang. Membeli dan menjual adalah keseharian yang tak bisa dielakan. Tapi Tuhan selalu memberi tanpa pamrih, tanpa perhitungan
….

" Kini saatnya ibu untuk berobat … "
Digendongnya ibunya dari pembaringan, sambil berkata: " Tuhan telah membeli yang saya jual… ".
Taksi yang tadi ditumpanginya dari hotel masih setia menunggu di depan rumahnya. Dimasukannya ibunya ke dalam taksi dengan hati-hati dan berkata
kepada supir taksi: " Antar kami kerumah sakit …"
http://blognyajose.blogspot.com/2010/09/inilah-kisah-cerita-seorang-gadis-yang.html


,

Kata orang hidup adalah pilihan. Awalnya aku tak percaya kata-kata itu. Sebelum akhirnya membuktikan kebenarannya. Kebenaran tentang hidup yang ternyata bukanlah sebuah pilihan. Kenapa? karena kita sudah dipilih atau terpilih menjadi seseorang. Seperti aku ini, yang terlahir sebagai anak seorang Koruptor.
Sejak kecil, aku diperlakukan seperti anak raja. Semua yang aku butuhkan, selalu disediakan oleh kacung-kacung bergaji murah. Satu juta rupiah sebulan termasuk murah bukan? Ya, harga segitu buat keluargaku tidak ada apa-apanya kale! Whatever lah! Yang pasti, dengan gaji segitu mereka -kacung-kacung itu- selalu siap dengan perintahku. Ketika aku lapar, hidangan mewah selalu tersedia di meja bundar, yang terbuat dari kayu jati itu. Mulai dari ayam ala Kentucky sampai babi panggang. Ketika aku haus, minuman aneka rupa dan aneka rasa, berjajar di mini bar yang ada di ruang tengah.
”Yusril!” teriakku memanggil nama seorang kepala kacung yang namanya mengingatkaku pada nama seorang mantan menteri.
Dalem, Den,” sambut Yusril sambil berlari kecil ke arahku.
Begitu jarak kami tiga meter, Yusril langsung merendahkan badannya dan memberi hormat padaku. Sebuah hormat ala Jepang. Setelah memberi hormat, ia merangkak, mendekat ke arahku. Apa yang dilakukan Yusril, memang sudah menjadi adat istiadat keluargaku sejak dahulu kala. Itulah cara Yusril dan kacung-kacungku yang lain dalam menghormati kami. Persis seperti Abdi Dalem kala menghadap paduka Raja.
Aku dan keluarga memang harus menjaga jarak dengan para kacung. Mengertilah wahai teman-temanku, strata kami berbeda. Kami ini jauh tinggi di langit, sedang mereka jauh berada di bawah bumi. Kami juga diajari untuk selalu dilayani bukan melayani. Jadi jangan heran kalo istilah ”melayani” sangat langka dalam kehidupan kami. Melayani cukup dilakukan oleh kacung. Tak ada istilah dalam lingkungan keluargaku.
Bukan cuma makan dan minum yang harus dilayani oleh kacung-kacung. Ketika aku ingin pup, seorang kacung dengan sigap menyiapkan tangannya untuk menceboki pantat kami yang ada bekas kotoran. Ketika kami ingin ML, kacung kami juga ready to search wanita-wanita yang siap untuk kami ML-kan. Termasuk menyediakan kondom-kondom aneka rupa. Ada yang rasa cokelat, stawberry, durian, mangga, pisang, jambu, sate padang, nasi gila, roti bakar edi, dan rasa-rasa lain.
Maybe I was a bit spoiled. I made it because the circumstance that my Father used to do”.
Kelihatannya keluarga kami memang aneh. Kelihatannya apa yang kami kerjakan menyalahi formalitas yang berlaku di masyarakat. Namun itulah kebiasaan kami. Kebiasaan yang sudah menjadi sebuah format kewajaran. Oh iya, bicara soal kewajaran, buat orangtua kami, apa yang dianggap tidak wajar oleh banyak orang, justru menjadi hal yang lumrah. Misalnya, menitip fee dari pemenang tender, memberi izin Pengusaha-Pengusaha yang menebang kayu tanpa lewat prosedur, menyelundupkan hewan-hewan yang dilindungi, dan masih banyak lagi.
Beberapa kali, aku sempat mendengar Ayahku berbicara dengan Adrian Kiki Ariawan. Kenal dong siapa pria ini? Dia buronan kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) yang tempo hari ditangkap oleh pemerintah Australia atas kerjasama dengan Kejaksaan Agung (Kejagung). Dia adalah salah satu orang berdarah dingin yang membuat Pemerintah jadi kehilangan uang. Padahal uang itu bisa dipergunakan untuk banyak hal, termasuk menyekolahkan anak-anak putus sekolah, atau memberi makan keluarga-keluarga kelaparan.
Ayahku juga sempat terlibat pembicaraan dengan tujuh Kepala Yayasan (Dakab, Amal Bakti Muslim Pancasila, Supersemar, Dana Sejahtera Mandiri, Gotong Royong, dan Trikora) soal dana Rp 1,4 triliun. Ayahku juga tahu soal korupsi dalam Tecnical Assintance Contract (TAC) antara Pertamina dengan PT Ustaindo Petro Gas (UPG) tahun 1993 yang meliputi 4 kontrak pengeboran sumur minyak di Pendoko, Prabumulih, Jatibarang, dan Bunyu yang berhasil merugikan negara senilai US $ 24.8 juta. Ayahku pun tahu penyimpangan penyaluran dana BLBI senilai Rp 138,4 triliun dari total dana senilai Rp 144,5 triliun serta penyelewengan penggunaan dana BLBI yang diterima 48 bank sebesar Rp 80,4 triliun. Last but not least, Ayahku sempat berhubungan dengan Joko S. Tjandra sebelum kabur.
Pembicaraan Ayahku dengan para koruptor itu kencang sekali. Hampir seisi rumah mendengar. Padahal pembicaraan itu sangat sensitif yang sebenarnya aku tak perlu mendengarkannya. Yang sebenarnya sangat-sangat mengajarkan hal-hal negatif. Tapi Ayahku cuek. Ayahku tak peduli apakah aku nantinya akan mengikuti jejaknya atau malah menjadi pembelot. Bayangkan, apakah wajar seorang Ayah bicara soal sogok-menyogot, tipu-menipu, bahkan bunuh-membunuh didengar oleh anak seperti diriku yang keren ini. Namun, sekali lagi, hal seperti ini sudah lumrah, sudah wajar di keluarga kami.           
Mungkin Anda pikir, aku beruntung memiliki kehidupan yang luar biasa. Kehidupan yang semua manusia ingin mendapatkannya. Kehidupan yang selalu dibayangkan oleh banyak orang, dimana orang-orang ini terus mengejarnya dengan cara berkompetisi. Mungkin perasaan Anda, aku tak akan pernah merasakan kepedihan dalam mengarungi kehidupan sesungguhnya. Tak pernah ada tangis. Tak pernah ada kekecewaan. Semuanya happy. Boleh jadi benar!
Aku cukup beruntung. Ya, aku beruntung. Aku bersyukur dengan apa yang telah aku miliki, meski aku tahu harta ini didapat ini dari cara korupsi yang Ayahku selalu lakukan. Anda tak perlu tahu korupsi model apa yang sudah dilakukannya. Pokoknya aneka cara sudah dia lakukan. Dan aku tahu, Ayahku tidak akan pernah menyesal ataupun merasa bersalah, ketika apa orang yang mempertanyakan kehalalan semua harta benda tesebut.
”Ah tahu apa kalian tentang halal?” kata Ayahku suatu hari, ketika seorang jurnalis bertanya soal asal usul pendapatannya.
”Halal itu relatif! Menurut Ulama haram, kalo menurut saya halal, Anda mau bilang apa?”
Jurnalis bingung.
”Kenapa yang mendapatkan cap halal haram selalu sesuatu yang nggak penting? Rokok, misalnya. Atau soal infotainment dan yoga yang juga dianggap haram. Terakhir soal Facebook yang juga dikatagorikan haram. Aya-aya wae! Kenapa semua minuman keras tidak dicap haram di botolnya? Kenapa rumah-rumah prostitusi tidak diberikan bilboard bertuliskan haram? Masih banyak contoh lagi yang tidak bisa jabarkan satu per satu. Intinya halal haram itu relatif”.
Jurnalis mengangguk. Bukan karena mengerti, tapi makin bingung.
”Lagipula Ulama-ulama itu kan juga manusia. Mereka bisa membuat halal atau haram berdasarkan pesanan seseorang, kok! Asal ada duitnya....”
Aku memang cukup beruntung, tapi aku bosan. Aku bosan dengan kondisiku sekarang. Semua serba enak. Tak ada yang tak mungkin. Semua bisa dilakukan oleh keluarga kami. Semuanya mudah aku dapatkan. Tinggal minta, pasti tersedia. Tinggal tunjuk, semua beres. Inilah yang membuatku merasa tak ada tantangan.
Yap! Tantangan! Itulah kata kunci. Sebagai pria, aku memang butuh itu, butuh tantangan, agar eksistensiku bisa terekspos. Bahwa aku adalah survivor! Mampu berdiri dengan segala kekurangan. Bukankah aku masih menjadi lelaki jantan?
”Ayah, mulai besok saya akan kabur dari rumah ini,” ucapku pada Ayah someday and somewhere.
Aku bingung, Ayahku tak shock. Dia tak memperlihatkan kekagetan dengan ucapanku itu. Responnya dingin-dingin saja. Kok bisa? Kok seorang Ayah yang selama ini aku bangga-banggakan ternyata tidak berusaha menahanku agar tidak pergi dari rumahku. Ayah yang selama ini mengasihiku, menyayangiku, dan memanjakanku dengan aneka materi, kok cuma bereaksi dingin atas permintaanku itu. Ketidakheranan Ayahku membuatku malah semakin menggebu untuk kabur dari rumahku.
”Kapan kamu mau keluar dari rumah ini?”
”Mulai besok Ayah,” jawabku masih dalam kondisi bingung dengan sikap Ayahku.
”Kenapa nggak sekarang saja?”
Pernyataanya Ayahku itu makin membuatku terpojok. Membuat aku marah. Sebab, aku merasa kaburnya aku seperti sudah dinanti-nantikan Ayahku. Kenapa begitu? Aku merasa tak dianggap. Aku jadi berpikir macam-macam. Jangan-jangan aku bukan anak kandungnya? Jangan-jangan kasih sayang Ayahku selama ini cuma basa-basi?
”Baik Ayah! Mulai hari ini saya keluar dari rumah ini!”
Aku kabur tanpa cium tangan. Tanpa cipika-cipiki. Kalian sudah tahu jawabannya. Itu karena aku merasa direndahkan oleh Ayahku. Karena aku merasa tak dianggap olehnya. Aku sakit hati. Kata Meggy Z, lebih baik sakit gigi daripada sakit hati. Padahal yang namanya sakit, ya tetap aja sakit. Mau sakit gigi kek, sakit hati kek, ya tetap aja sakit. Tapi aku harus kuat. Harus tegar. Bukankah ini termasuk bagian dari ujian pertamaku sebagai manusia normal yang akan kulakukan di luar rumah? Ujian pertama dari anak Koruptor yang selama ini hidup di comfort zone?
What am I supposed to do?”
Aku belum pernah merasakan keadaan yang menyedihkan ini. Menjadi orang miskin. Tak punya uang. Tidur di bawah kolong jembatan, kehujanan, dan tanpa uang sepersen pun. Aku juga belum pernah merasakan berdesak-desakan di kendaraan umum. Saling serobot tanpa atrean. Mencium keringat anekarasa di Metromini, di Mayasari Bakti. Belum pernah mencium udara kota besar yang sudah berpolusi dan berkeringat karena terkena sinar matahari.
Kini hembusan angin menusuk-nusuk dinding tubuhku. Hari ini hujan disertai oleh angin badai. Dingin sekali. Rasa dingin kini membuat perutku keroncongan. Aku lapar! Kenapa kok aku mulai lemah? Kenapa kok aku mulai mempertanyaakan kekuatanku menghadapi ujian-ujian ini? Padahal banyak orang yang sudah terbiasa dengan kondisi ini. Tak makan seharian. Berpanas-panasan di hujani terik matahari. Kehujanan. Lihatlah Pengemis-Pengemis itu! Mereka di jalanan tak peduli panas, hujan terus mengetuk-ngetukan kaca mobil. Tengoklah Pengamen-Pengamen cilik itu. Mereka tanpa lelah bernyanyi dari mobil ke mobil, meski tak setiap mobil memberikan uang recehan. Tapi kenapa aku kalah? Kalah dengan mereka!
It is tough for me, because the circumstance want me to survive alone. I know I’m young that never do this way. Find money and the way to live”.
Ternyata aku bukan seorang suvivor. Ternyata aku pria yang mudah putus asa. Ternyata aku pria yang lebih suka dihormati atau dilayani layaknya raja. Lebih tepatnya gila hormat. Ternyata jauh lebih enak menjadi orang kaya dan hidup serba ada, seperti kehidupanku sebelumnya. Ngapain juga hidup bersama 34,96 juta orang miskin di tanah air ini? Najis! Dalam kondisi depresi seperti ini, aku kangen Ayahku. Aku juga kangen dengan kacung-kacungku. Kalau saja ada BlackBerry, akan kuhubungi Ayahku sekarang. Aku akan minta maaf dan mengatakan padanya:
”Ayahku yang kucinta, aku bangga punya orangtua seperti Ayah. I will always support what you do that, till dead do us part. Aku bangga pada Ayah, meski Ayah seorang Koruptor”.
http://www.wikimu.com/News/DisplayNewsSastra.aspx?id=17925&post=1